Beranda > Warta > Kenapa Cina Kaya

Kenapa Cina Kaya

“Di dunia ini tiada yang lebih kaya selain daripada orang cina !” Begitu Ibnu Batutah pernah menuturkan. Sepertinya kita memang harus percaya dengan perkataan Ibnu Batutah barusan. Kenapa ? Lihat saja, Indonesia yang mayoritas masyarakatnya pribumi asli tidak mampu menunjukkan taringnya dalam hal kegiatan ekonomi. Kebanyakan kita cenderung menjadi “orang kedua” yang mampunya hanya pekerja bukan pemilik.

Berbeda dengan masyakat etnis Tionghoa yang bermukim di Indonesia. Mereka yang semula hanya perantau, sekarang telah mampu memegang peranan di bumi nusantara ini terutama dalam bidang ekonomi. Nuansa bisnis yang mereka dominasi kebanyakan memiliki ciri khas yang sama dan gaya yang sama pula.

Tidak hanya dalam hal produksi, pengadaan bahan baku, hingga sistem marketing yang sengaja mereka ciptakan telah menyeret mereka dalam satu gerbang yang sejenis pula yakni kesuksesan.

Untuk itu, buku karya Thomas Liem Tjoe yang hadir kali ini dengan judul Rahasia Sukses Bisnis Etnis Tionghoa di Indonesia sepertinya telah memberikan bocoran bagi kita untuk (setidaknya) belajar banyak hal dari cara orang cina meraih sukses dengan cara yang mereka miliki.

Dalam buku ini banyak hal yang diungkap, mulai dari sejarah bagaimana orang cina sendiri masuk ke Indonesia (pada bab II) hingga trik-trik rahasia yang mereka punya untuk menjalankan roda bisnisnya (bab VI).

Selain persoalan trik yang dipaparkan dalam buku ini, Liem Tjoe juga menjelaskan perihal karakter dan profil yang dipunyai orang cina dalam bisnis yang mereka gerakkan. Diantara profil dan karakter itu, orang cina memiliki semacam filosofi merasa tidak memiliki tanah air, cepat mengadaptasi bahasa dan cenderung mengikuti standar barat. Senada dengan ucapan Renald Kasali, Ph. D bahwa kesuksesan orang cina lebih disebabkan karena mereka tidak malas!

Filosofi ini yang kemudian diturunkan secara monarchi pada anak keturunan mereka (hlm. 43). Hingga wajar kita lihat, bisnis orang cina cenderung dikelola oleh anggota keluarga inti secara eksklusif.

Perasaan tidak memiliki tanah air dan sistem bisnis keluarga inilah yang sepertinya tidak dimiliki etnis lain di dunia ini (hlm. 45). Dari situ, orang cina lebih menghidupkan jaringan yang membuat bisnis mereka kian menyala. Nasib sesama anak perantau ini yang menjadi dasar berpijak mereka untuk terus saling membantu. Disaat bisnis yang satu ambruk, maka bisnis jaringan yang mereka punya akan cepat-cepat menopang bisnis yang ambruk tersebut.

Selain persoalan mental yang mereka miliki, orang cina kerap pula memiliki arah dan tujuan yang jelas dalam alur perjalanan bisnis mereka. Hingga ketika kegagalan menerpa mereka bukan disebabkan karena tidak tersedianya modal, salah perhitungan, timbulnya kompetitor lain tapi lebih karena tidak jelasnya arah tujuan dalam berbisnis, begitu mereka pernah menganalisis.

Persoalan lain yang mendominasi karir mereka adalah sistemik elemen alam yang dipercaya membawa hoki akan hidup dan cita-cita mereka (pada bab V).

Kehokian itu lebih dititikberatkan pada simbol-simbol atau tanda-tanda yang mereka gunakan melalui alat kalender Tiongkok berupa shio. Antara percaya atau tidak, orang cina memang menaruh perhatian besar pada hal ini.

Namun jauh dari itu, elemen alam yang mereka pakai tidak lain mengajarkan mereka untuk saling cinta kasih, sopan-santun, disiplin dan kejujuran yang diwujudkan dalam bisnis mereka (hlm.57).

Begitupun buku ini banyak membeberkan rahasia sukses orang cina di Indonesia, akan tetapi, buku ini terasa kurang ketika penulis tidak memberi contoh orang cina Indonesia yang sukses dalam bisnisnya yang kemudian mampu kita dijadikan figur dalam bisnis yang tengah kita garap saat ini.

Jauh dari itu, semua buku ini terasa klop ketika bab terakhir mengungkap beberapa trik-trik sederhana yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan bisnis kita sesuai dengan 16 prinsip berbisnis Tao Chu Kung

Maka kiranya selain penting untuk dibaca, buku ini penting pula dipelajari serta dipahami bagi siapa saja yang ingin sesukses dan sekaya orang cina. Kalau orang cina saja bisa kaya, lantas mengapa kita tidak ?

Resensi Buku ini telah Dimuat di Harian ANALISA
Pada Rabu, 31 Desember 2008
dicuplik dari http://surau-aksara-madani.blogspot.com

About these ads
Kategori:Warta Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: